Setelah dibebaskan, Barakah menikah dengan Ubaik ibnu Zaid, seorang lelaki dari bani Harits. Dari pernikahan ini, lahirlah Ayman ibnu Ubaid, seorang anak yang kemudian sangat disukai oleh Muhammad. Sejak kelahiran anak itu, Barakah terkenal dengan nama Ummu Ayman 'ibnu si Ayman'.
Setelah beranjak dewasa, Ayman kemudian menjadi salah seorang sahabat terdekat Muhammad Rasulullah. Ia merupakan bagian dari orang-orang pertama yang masuk Islam. Kisah kepahlawanannya dalam Perang Hunain sangat termasyhur. Abbas menulis sebuah syair tentang peristiwa itu,
Kita bertujuh telah menolong Rasulullah
Ketika semua orang lari ketakunan
Di sana, orang kedelapan menghadapi musuh sendirian
Demi Islam, tak pernah takut ia terima serangan
Lima dari tujuh orang yang tidak ikut melarikan diri pada Perang Hunain adalah keluarga Nabi, yaitu Abbas, Ali ibnu Abi Thalib, Fadhl ibnu Abbas, Abu Sufyan ibnu Harits ibnu Abdil Muththalib, dan Usama ibnu Zaid. Dua orang lainnya adalah sahabat-sahabat terdekat Rasulullah, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar ibnu Khaththab. Lalu siapakah orang kedelapan yang bertempur dengan gagah berani dalam syair tersebut? Dialah Ayman ibnu Ubaid.
Sebelum menikah dengan Khadijah, Muhammad adalah pemuda yang miskin. Banyak pemuda lain yang sebaya dengannya menikmati hidup yang jauh lebih mewah dengan harta yang lebih banyak. Berfoya-foya adalah bagian dari gaya hidup mereka pada masa itu. Muhammad menyaksikan hal itu dengan tenang dan rela. Ia tidak pernah mengeluh atau menampakkan rasa iri dan dengki.
Kehidupan Muhammad tiba-tiba saja berubah. Ia menikah dengan seorang wanita terhormat yang cantik dan kaya. Muhammad, kita tahu, kehilangan ibunya ketika ia masih kecil. Dalam diri Khadijah, Muhammad mendapatkan cinta seorang istri sekaligus kasih sayang seorang ibu. Hal itu seakan menjadi kompensasi baginya.
Muhammad dan Khadijah menikmati hidup rumah tangga yang bahagia. Mereka adalah pasangan yang saling melengkapi. Sebagai seorang pemuda yang tengah berada di puncak kekuatan fisiknya, Muhammad mengambil alih semua urusan ekonomi dan kerja-kerja yang melelahkan. Khadijah mengimbanginya dengan cinta dan kasih sayang.
Akan tetapi, Muhammad bikanlah orang yang gampang dipuaskan dengan kenikmatan-kenikmatan material dan finansial. Ia mencoba untu menjelajahi dunia spiritual dan berpikir tentang penciptaan alam semesta. Kepada Khadijah, Muhammad meminta izin untuk menyendiri, merenung dan memperhatikan keagungan Tuhan serta keindahan ciptaan-Nya. Muhammad ingin menjauhi syirik dan gaya hidup permasif yang saat itu menyebar luas di Mekah. Karena itu ia memilih Gua Hira sebagai tempatnya untuk menyendiri.
Khadijah tidak terkejut dengan permintaan itu. Ia telah mempelajari kehidupan dan akhlak Muhammad jauh hari sebelum memutuskan untuk menikah dengannya. Khadijah tahu bahwa Muhammad sangat membenci perbuatan menyembah, bersujud, atau mempersembahkan kurban kepada berhala.
Link ke halaman 10 kok tidak bisa
ReplyDeleteWah, sudah sampai ke halaman 10 ya. Terima kasih atas antusiasnya. Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi pada anda. Mungkin saat anda mengakses link ke halaman 10, saat itu kami sedang melakukan pemeliharaan halaman. Dan sekarang halaman 10 sudah bisa diakses. Selamat menikmati.
ReplyDelete