Skip to main content

Khadijah - Page 3

Muhammad memiliki kening yang lebar, dagu yang lepas dan leher yang jenjang. Dadanya bidang. Matanya indah dan lebar dengan bola mata yang hitam pekat. Giginya putih cemerlang.

Agak mengherankan bahwa Khadijah memperhatikan semua itu. Ketampanan dan kegagahan Muhammad memang mampu memikat banyak orang. Tetapi, bukankah Khadijah memanggilnya untuk urusan bisnis? Tampaknya, Khadijah tertarik kepada pribadi pemudia ini. Alangkah lembutnya keindahan yang terpancar dari wajah Muhammad. Alangkah indahnya senyum tipis yang menghias wajahnya. Khadijah merasa bahwa apa yang ramai dibicarakan penduduk Mekkah tentang Muhammad bukan merupakan isapan jempol belaka.

Setelah menerima tugas dari Khadijah, Muhammad bergegas menuju pamannya, Abu Thalib, untuk menceritakan tawaran kerja yang baru saja diterimanya. Abu Thalib pun turut bergembira. Ia berkata, "Ini adalah rezeki yang Allah berikan kepadamu."

Hari keberangkatan pun tiba. Penduduk Mekah, termasuk paman Muhammad, beramai-ramai mengantar kafilah ke perbatasan kota. Kafilah pun bertolak menuju Syam.

Dalam ekspedisi dagang ke Syam ini, Muhammad dibantu oleh seorang laki-laki bernama Maysarah. Khadijah berpesan agar Maysarah tidak membandah perintah Muhammad ataupun menentang pendapatnya.

Urusan perdagangan di Syam ternyata berjalan lancar. Barang-barang habis terjual. Laba yang luar biasa besar pun didapat. Sebelum pulang, kafilah ini membeli barang-barang lain untuk dijual kembali ke Mekah.

Setelah semua urusan selesai, kafilah ini pun beranjak pulang. Sesampainya di sebuah lembah --sekarang terkenal dengan nama Wadi Fathimah-- diluar Mekah, Maysarah berkata kepada Muhamad, "Pergilah kepada Khadijah! Laporkan semua yang engkau alami dan keuntungan yang engkau peroleh dalam ekspedisi ini."

Muhammad lalu maju bersama para pemuda lain yang baru saja datang dari perjalanan jauh. Mereka memasuki kota diikuti kafilah yang berjalan perlahan di belakang mereka. Para lelaki menyambut kedatangan mereka di jalan-jalan. Para wanita memandangi mereka dari atas rumah.

Saat itu siang hari. Khadijah bersama beberapa wanita lain berada di sebuah ruangan di bagian atas rumahnya. Ia dapat melihat Muhammad yang sedang menunggang unta kecil berwarna merah memasuki kota. Ada dua malaikat menaunginya. Para wanita itu terkejut. Betapa gagah Muhammad. Betapa agung wibawa yang dipancarkannya. Betapa dari jauh ia terlihat begitu indah dan mengesankan.

Sebagaimana tradisi yang biasa dilakukan para pembesar Quraisy selepas pulang dari perjalanan dagang, Muhammad pun langsung menuju Ka'bah untuk melakukan thawaf. Setelah itu barulah ia menghadap Khadijah.

KepadaKhadijah, Muhammad melaporkan semua hal yang dialaminya selama perjalanan, termasuk keuntungan besar yang diperolehnya dan barang-barang dagangan yang dibelinya di Syam. Khadijah menerima laporan itu dengan gembira. Apalagi setelah diketahui bahwa barang-barang yang dibawa dari Syam berhasil dijual kembali ke Mekah dengan keuntungan berlipat ganda.

Pada kesempatan lain, Maysarah juga menghadap Khadijah dan berceritatentang hal-hal aneh yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Ia seringkali menyaksikan awan berkumpul menaungi Muhammad yang sedang menunggang unta di padang pasir pada siang yang panas.

Suatu hari, tutur Maysarah, Muhammad sedang bernaung di bawah sebuah pohon di dekat tempat pertapaan seorang rahib bernama Nasthura. Sang rahib bertanya kepada Maysarah mengenai Muhammad. Maysarah menjawab bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang mulia dari suku Quraisy. Sang rahib kembali bertanya, "Apakah ada tanda merah di matanya?"

Bersambung...

Comments

Popular posts from this blog

Khadijah - Page 6

4 5 6 7 8 Akhirnya, meski sempat ragu, Khadijah kemudian memutuskan untuk menikah dengan Muhammad dan mengambil inisiatif untuk meminangnya. Tetapi masih ada satu pertanyaan yang harus ia jawab: siapa yang dapat menjamin bahwa Muhammad akan menerima pinangannya? Khadijah adalah wanita yang kaya, cantik, dan berstatus sosial tinggi. Ia masih memiliki pesona bagi banyak laki-laki. Di sisi lain Muhammad bukanlah lelaki yang rakus dan gampang tergoda oleh hal-hal yang bersifat lahiriah. Tetapi, Khadijah tahu bahwa walau bagaimanapun, Muhammad tetaplah seorang pemuda. Adalah haknya untuk mencintai seorang gadis yang sebaya. Dengan mempertimbangkan hal-hal tadi, Khadijah memilih untuk menggunakan sebuah siasat. Ia mengutus seorang wanita yang ia yakini kemampuan dan loyalitasnya untuk secara diam-diam melakukan pendekatan awal kepada Muhammad. Wanita yang dipercayainya untuk mengemban tugas itu adalah Nafisah binti Umayyah yang masih kerabat dekat Muhamma...