Barakah, wanita yang mengasuh Muhammad sejak kecil, juga memberi tahu Khadijah betapa paman-paman Muhammad selalu berusaha untuk memengaruhinya agar menyembah berhala dan mengikuti perayaan-perayaan penyembahan yang diselenggarakan setiap tahun. Tetapi Muhammad tidak pernah terpengaruh.
Ada sebuah patung yang sangat diagungkan oleh kaum Quraisy. Patung itu mereka beri nama "Buwanah". Setiap tahun diadakan perayaan besar-besaran dan pemberian sesaji sebagai penghormatan kepadanya. Seluruh penduduk Mekah, termasuk anggota bani Hasyim, terlihat dalam perayaan itu. Tetapi tidak dengan Muhammad. Ia menolak setiap ajaran untuk merayakan hari raya bagi berhala.
Suatu hari, Abu Thalib mengajak Muhammad sekali lagi untuk mengikuti perayaan tahunan. Seperti biasa, Muhammad menolak. Tetapi, sekali itu, semua paman dan bibinya menunjukkan kemarahan yang luar biasa atas penolakan itu. Mereka terus mendesak Muhammad agar ikut bersama mereka. Akhirnya, Muhammad pun mengalah. Ia bersedia keluar bersama paman-pamannya.
Akan tetapi, Allah menjaganya dari perbuatan menyembah berhala. Begitu Muhammad sampai di tempat perayaan itu, tiba-tiba saja ia pergi dan menghilang. Setelah perayaan itu selesai barulah ia kembali dengan paras penuh ketakutan dan kekhawatiran. Setelah kesadarannya kembali pulih, Muhammad ditanya ke mana saja ia pergi dan apa yang membuatnya ketakutan. Ia menjawab, "Setiap kali kudekati sebuah patung, tampak di hadapanku sesosok lelaki berkulit putih dan berpostur tingi yang berteriak, 'Menjauhlah Muhammad, jangan kau sentuh itu!'"
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ali, disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, "Pernahkah engkau menyembah berhala?" Beliau menjawab, "Tidak" Orang itu kembali bertanya, "Pernahkah engkau meminum khamar?" Beliau kembali menjawab, "Tidak, bahkan sebelum aku tahu apa itu Al-Qur'an dan apa itu iman, aku sudah terlebih dahulu tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah kekufuran."
Uzlah yang dilakukan Muhammad di Gua Hira' harus dilihat dalam konteks tersebut. Ia ingin menghindar dari hedonisme dan gaya hidup mewah di masyarakat Mekah saaat itu. Di tengah suasana padang pasing yang damai dan hening, Muhammad dapat merenung dan berpikir tentang penciptaan alam semesta.
Keputusan Muhammad untuk menarik diri dari keramaian itu mejadikan Khadijah tiba-tiba teringat pada pengalaman sepupunya, Waraqah ibnu Naufal, yang bersama tiga orang kawannya mencoba menghindari tradisi penyembahan berhala dan berusaha untuk mencari agama Ibrahim. Khadijah kembali merenungkan segala hal yang didengar atau dialaminya sendiri tentang Muhammad. Maysarah pernah bercerita kepadanya tentang ramalan kenabian Muhammad. Ia berpikir, apakah keputusan Muhammad untuk mengasingkan diri ini merupakan sebentuk persiapan sebelum menerima risalah dari langit? Pikiran-pikiran itu membuat Khadijah bisa memahami dengan baik niat suaminya untuk beruzlah di Gua Hira'.
Di sisi lain, Khadijah sebenarnya menginginkan agar suaimnya, Muhammad, selalu berada di sisinya. Ia merasa bahwa setelah sebelumnya bertahun-tahun hidup sendiri, Muhammadlah yang dapat menjadikannya bahagia. Tetapi Khadijah juga adalah wanita yang matang dan berpikiran panjang. Ia tidak larut dalam perasaanya sendiri. Ia merasakan hadirnya sebuah kekuatan spritiual yang membuat Muhammad mampu melampaui fenomena-fenomena lahiriah. Kekuatan itu pula yang melindungi dan menghindarkan Muhammad dari perbuatan-perbuatan mereka serta tradisi-tradisi buruk yang mewabah di Masyarakat Mekah. Khadijah sadar bahwa kekuatan spiritual yang telah membimbing Muhammad itu tidak akan menipunya. Karena itu, ia memutuskan untuk segera menyiapkan perbekalan yang dibutuhkan suaminya selama melakukan uzlah di Gua Hira'.
Comments
Post a Comment