Muhammad berangkat di Gua Hira. Sebulan lamanya ia meninggalkan Khadijah, tenggelam dalam perenungan dan ibadah. Ketika kembali ke Mekah, hal pertama yang dilakukannya adalah thawaf mengelilingi Ka'bah. Baru setelah itu, ia pulang ke rumah, disambut dengan penuh kegembiraan oleh Khadijah. Betapa panjang rasanya sebulan ditinggak suami tercinta.! Dan kini, tuntaslah semua kerinduan itu.
Beberapa saat sebelum kedatangan Muhammad, Khadijah didatangi oleh Halimah binti Abi Dzuayb as-Sa'diyyah, seorang wanita yang pernah mengasuh Muhammad pada masa kecilnya. Khadijah menerima tamu terhormat itu dengan penuh penghargaan. Muhammad sendiri kaget beigut masuk rumah dan menemukan Halimah, ibu asuhnya, berada di sana.
Begitu juga Halimah. Bertemu dengan anak yang pernah diasuhnya menjadikan ia terharu sekaligus gembira. Keduanya lalu terlibat pembicaraan panjang tentang kenangan masa lalu, ketika Muhammad kecil berada di dusun bani Sa'd, diasuh dan hidup bersama keluarga Halimah.
Selama tinggal di rumah Muhammad, Halimah menjadi tamu kehormatan. Ia bercerita tentang dusunnya yang ditimpa kemarau panjang. Tanaman-tanaman rusak dan hewan-hewan ternak mati. Mendengar berita itu, Muhammad dan Khadijah turut bersedih. Mereka kemudian membekali Halimah dengan hadiah besar berupa seekor unta dan empat puluh ekor kambing untuk dibawa ke dusunnya.
Begitulah kehidupan suami-istri ini. Dari hari ke hari, kebahagiaan di hati Khadijah terus bertambah. Muhammad merupakan suami yang ideal yang selalu memperlakukan istrinya dengan santun dalam setiap kesempatan. Tetapi ada satu masalah yang mengganggu perasaan Khadijah. Setelah setahun menikah, mengapa belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada dirinya?
Khadijah merasa gundah. Ia berpikir, apakah setelah melewati usia empat puluh tahun ia menjadi mandul? Padahal, ia merasa sehat, kuat dan normal. Ia juga mengalami menstruasi secara teratur. Lalu apa yang salah pada dirinya?
Tahun kedua pun berlalu. Khadijah belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Ia memang tidak sama sekali kehilangan harapan, tapi perasaan bahwa ia tidak mampu memberikan keturunan bagi suaminya menjadikannya tertekan. Kadang-kadang, Khadijah merasa tidak bahagia. Dua pernikahannya sebelumnya telah memberinya tiga anak. Apa yang terjadi dengan pernikahannya kali ini? Apakah Tuhan tidak menakdirkannya memiliki anak dari Muhammad?
Lama-lama Khadijah merasa khawatir. Ia tahu bahwa setiap orang mendambakan keturunan dari pernikahan mereka. Muhammad tentu bukan pengecualian dalam hal ini. Apa yang akan terjadi jika dirinya tidak mampu memberikan anak kepada suaminya itu? Tidakkan ia akan memilih wanitaa lain untuk dinikahi--wanita yang mampu memberinya keturunan?
Kekhawatiran itu memenuhi perasaannya sepanjang tahun kedua pernikahannya. Hanya kehakinan pada rahmat Tuhanlah yang menjadikannya sabar dan bertahan. Ia selau berdoa, memohon agar Tuhan mengabulkan keinginannya yang satu ini. Bertahun-tahun lamanya ia menjalani hidup yang bersih dan suci; apakah itu bukan alasan yang cukup bagi Tuhan untuk mendengar doanya?
Comments
Post a Comment