Skip to main content

Khadijah - Page 11

Muhammad berangkat di Gua Hira. Sebulan lamanya ia meninggalkan Khadijah, tenggelam dalam perenungan dan ibadah. Ketika kembali ke Mekah, hal pertama yang dilakukannya adalah thawaf mengelilingi Ka'bah. Baru setelah itu, ia pulang ke rumah, disambut dengan penuh kegembiraan oleh Khadijah. Betapa panjang rasanya sebulan ditinggak suami tercinta.! Dan kini, tuntaslah semua kerinduan itu.

Beberapa saat sebelum kedatangan Muhammad, Khadijah didatangi oleh Halimah binti Abi Dzuayb as-Sa'diyyah, seorang wanita yang pernah mengasuh Muhammad pada masa kecilnya. Khadijah menerima tamu terhormat itu dengan penuh penghargaan. Muhammad sendiri kaget beigut masuk rumah dan menemukan Halimah, ibu asuhnya, berada di sana.

Begitu juga Halimah. Bertemu dengan anak yang pernah diasuhnya menjadikan ia terharu sekaligus gembira. Keduanya lalu terlibat pembicaraan panjang tentang kenangan masa lalu, ketika Muhammad kecil berada di dusun bani Sa'd, diasuh dan hidup bersama keluarga Halimah.

Selama tinggal di rumah Muhammad, Halimah menjadi tamu kehormatan. Ia bercerita tentang dusunnya yang ditimpa kemarau panjang. Tanaman-tanaman rusak dan hewan-hewan ternak mati. Mendengar berita itu, Muhammad dan Khadijah turut bersedih. Mereka kemudian membekali Halimah dengan hadiah besar berupa seekor unta dan empat puluh ekor kambing untuk dibawa ke dusunnya.

Begitulah kehidupan suami-istri ini. Dari hari ke hari, kebahagiaan di hati Khadijah terus bertambah. Muhammad merupakan suami yang ideal yang selalu memperlakukan istrinya dengan santun dalam setiap kesempatan. Tetapi ada satu masalah yang mengganggu perasaan Khadijah. Setelah setahun menikah, mengapa belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada dirinya?

Khadijah merasa gundah. Ia berpikir, apakah setelah melewati usia empat puluh tahun ia menjadi mandul? Padahal, ia merasa sehat, kuat dan normal. Ia juga mengalami menstruasi secara teratur. Lalu apa yang salah pada dirinya?

Tahun kedua pun berlalu. Khadijah belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Ia memang tidak sama sekali kehilangan harapan, tapi perasaan bahwa ia tidak mampu memberikan keturunan bagi suaminya menjadikannya tertekan. Kadang-kadang, Khadijah merasa tidak bahagia. Dua pernikahannya sebelumnya telah memberinya tiga anak. Apa yang terjadi dengan pernikahannya kali ini? Apakah Tuhan tidak menakdirkannya memiliki anak dari Muhammad?

Lama-lama Khadijah merasa khawatir. Ia tahu bahwa setiap orang mendambakan keturunan dari pernikahan mereka. Muhammad tentu bukan pengecualian dalam hal ini. Apa yang akan terjadi jika dirinya tidak mampu memberikan anak kepada suaminya itu? Tidakkan ia akan memilih wanitaa lain untuk dinikahi--wanita yang mampu memberinya keturunan?

Kekhawatiran itu memenuhi perasaannya sepanjang tahun kedua pernikahannya. Hanya kehakinan pada rahmat Tuhanlah yang menjadikannya sabar dan bertahan. Ia selau berdoa, memohon agar Tuhan mengabulkan keinginannya yang satu ini. Bertahun-tahun lamanya ia menjalani hidup yang bersih dan suci; apakah itu bukan alasan yang cukup bagi Tuhan untuk mendengar doanya?

Comments

Popular posts from this blog

Khadijah - Page 6

4 5 6 7 8 Akhirnya, meski sempat ragu, Khadijah kemudian memutuskan untuk menikah dengan Muhammad dan mengambil inisiatif untuk meminangnya. Tetapi masih ada satu pertanyaan yang harus ia jawab: siapa yang dapat menjamin bahwa Muhammad akan menerima pinangannya? Khadijah adalah wanita yang kaya, cantik, dan berstatus sosial tinggi. Ia masih memiliki pesona bagi banyak laki-laki. Di sisi lain Muhammad bukanlah lelaki yang rakus dan gampang tergoda oleh hal-hal yang bersifat lahiriah. Tetapi, Khadijah tahu bahwa walau bagaimanapun, Muhammad tetaplah seorang pemuda. Adalah haknya untuk mencintai seorang gadis yang sebaya. Dengan mempertimbangkan hal-hal tadi, Khadijah memilih untuk menggunakan sebuah siasat. Ia mengutus seorang wanita yang ia yakini kemampuan dan loyalitasnya untuk secara diam-diam melakukan pendekatan awal kepada Muhammad. Wanita yang dipercayainya untuk mengemban tugas itu adalah Nafisah binti Umayyah yang masih kerabat dekat Muhamma...

Khadijah - Page 3

1 2 3 4 5 Muhammad memiliki kening yang lebar, dagu yang lepas dan leher yang jenjang. Dadanya bidang. Matanya indah dan lebar dengan bola mata yang hitam pekat. Giginya putih cemerlang. Agak mengherankan bahwa Khadijah memperhatikan semua itu. Ketampanan dan kegagahan Muhammad memang mampu memikat banyak orang. Tetapi, bukankah Khadijah memanggilnya untuk urusan bisnis? Tampaknya, Khadijah tertarik kepada pribadi pemudia ini. Alangkah lembutnya keindahan yang terpancar dari wajah Muhammad. Alangkah indahnya senyum tipis yang menghias wajahnya. Khadijah merasa bahwa apa yang ramai dibicarakan penduduk Mekkah tentang Muhammad bukan merupakan isapan jempol belaka. Setelah menerima tugas dari Khadijah, Muhammad bergegas menuju pamannya, Abu Thalib, untuk menceritakan tawaran kerja yang baru saja diterimanya. Abu Thalib pun turut bergembira. Ia berkata, "Ini adalah rezeki yang Allah berikan kepadamu." Hari keberangkatan pun tiba. Penduduk Mek...