"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (ar-Rum [30]:21)
Pesta pernikahan pun tiba. Dua ekor unta besar disembelih untuk keperluan pesta. Dagingnya dibagi-bagikan kepada keluarga, kawan-kawan, dan para fakir miskin. Suasana semakin meriah dengan bunyi tetabuhan dan nyanyian. Semua orang bergembira.
Hidup baru membentang di hadapan kedua pengantin. Kebahagiaan memenuhi perasaan Khadijah. Pernikahan ini lebih indah daripada apa yang ia bayangkan. Khadijah sadar bahwa apa yang ia dengar tentang kebaikan Muhammad ternyata tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang ia saksikan sendiri.
Muhammad selalu menampakkan sifat sabar dan tabah. Ia juga jujur. Apa yang ditampakkannya dalam perbuatan lahiriah tidak pernah bertentangan dengan apa yang ada di dalam hatinya. Ia dermawan. Tidak pernah ia menolak membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Ia bersedekah tanpa pernah takut hartanya akan habis. Dan hal itu terbukti. Harta di tangannya selalu bertambah sebanyak apa yang ia keluarkan.
Muhammad juga sangat rendah hati. Ia tidak malu melayani dirinya sendiri. Tidak pernah ia menunggu uluran tangan pembantu dalam urusan rumah tangganya. Jika Muhammad memiliki pembantu, ia yang justru menolong mereka dalam tugas-tugas yang mereka lakukan. Tidak ada pembantu yang dibebani dengan kerja berlebihan di luar batas kemampuan.
Semua orang dalam rumah tangga sepasang suami istri ini merasa kebaikan hati Muhammad. Ia selalu mengutamakan mereka atas dirinya sendiri. Mereka selalu berbagai kebaikan dan kesenangan bersamanya.
Dalam urusan bisnis dan perdagangan, Muhammad juga berperan sangat penting. Sebagian besar waktunya dicurahkan untuk menjalankan usaha dagang yang telah dirintis sekian lama oleh istrinya. Tidak pernah Muhammad terlihat bermalas-malasan. Ia selalu bersemangat dan bersungguh-sungguh.
Muhammad tidak pernah memaksakan kehendaknya. Ia selalu bermusyawarah dengan Khadijah dalam urusan-urusan yang mereka tangani bersama. Ia uga merupakan pendengar yang baik dan penuh perhatian. Tidak pernah ia mengecewakan atau menolah permintaan istrinya.
Khadijah tentu sangat berbahagia dengan pernikahannya. Ia merasa tidak perlu lagi mengurus usaha dagangannya. Semua diserahkannya kepada Muhammad, suaminya. Perhatian Khadijah sepenuhnya dipusatkan pada bagaimana melayani dan mencintai suaminya serta menangani urusan-urusan rumah tangga.
Bagaimana dengan ketiga anak Khadijah dari perkawinan-perkawinannya terdahulu? Mereka ternyata tetap tinggal bersama Khadijah dan Muhammad, dua orang yang mecintai mereka. Ketiganya kemudian memeluk Islam dan menjadi asisten Rasulullah yang paling setia. Tidak banyak karya sejarah yang menulis ketiga anak Khadijah ini. Tampaknya, kehidupan Rasulullah menyita perhatian yang sangat besar dari kalangan sejarahwan dan menjadikan kehidupan orang-orang lain sedikit terabaikan. Kami akan mengkaji kehidupan mereka bertiga dalam pembahasan tersendiri.
Waktu dan perhatian Muhammad terbagi antara urusan-urusannya sendiri, urusan-urusan keluarga, urusan-urusan perdagangan, dan urusan-urusan para kerabatnya. Ia mampu bersikap adil dalam semua itu. Tidak ada kepentingan pihak manapun yang harus dikorbankan demi kepentingan pihak lain.
Sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas semua nikmat yang diterimanya dari Allah, Muhammad membebaskan seorang budak wanita berkebangsaan Habasyah (Ethiopia ---pent.) yang diwarisinya dari ayahnya dulu. Budak itu bernama Barakah. Ia yang pernah mengasuh Muhammad selepas kematian ibunya, Aminah binti Wahib. Muhammad begitu mencintai Barakah. Muhammad selalu bersikap ramah kepadanya dan memanggilnya dengan panggilan, "Wahai Ibunda!" Di Depan orang-orang, Muhammad selalu menyebutnya sebagai bagian dari keluarga.
Comments
Post a Comment