Skip to main content

Khadijah - Page 6

Akhirnya, meski sempat ragu, Khadijah kemudian memutuskan untuk menikah dengan Muhammad dan mengambil inisiatif untuk meminangnya. Tetapi masih ada satu pertanyaan yang harus ia jawab: siapa yang dapat menjamin bahwa Muhammad akan menerima pinangannya?

Khadijah adalah wanita yang kaya, cantik, dan berstatus sosial tinggi. Ia masih memiliki pesona bagi banyak laki-laki. Di sisi lain Muhammad bukanlah lelaki yang rakus dan gampang tergoda oleh hal-hal yang bersifat lahiriah. Tetapi, Khadijah tahu bahwa walau bagaimanapun, Muhammad tetaplah seorang pemuda. Adalah haknya untuk mencintai seorang gadis yang sebaya.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tadi, Khadijah memilih untuk menggunakan sebuah siasat. Ia mengutus seorang wanita yang ia yakini kemampuan dan loyalitasnya untuk secara diam-diam melakukan pendekatan awal kepada Muhammad. Wanita yang dipercayainya untuk mengemban tugas itu adalah Nafisah binti Umayyah yang masih kerabat dekat Muhammad dan saudara perempuan dari seorang lelaki yang kemudian menjadi salah satu sahabat Nabi yang terkemuka, Ya'la ibnu Umayyah.

Nafisah mendatangi Muhammad dan menasihatinya seperti seorang ibu menasihati anaknya. Ia mencoba untuk meyakinkan Muhammad tentang pentingnya menikah. Muhammad menjawab dirinya hanya seorang miskin yang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada wanita yang menjadi istrinya.

Nafisah membantah hal itu. Menurutnya, kemiskinan bukan halangan untuk menikah. Apalagi Muhammad telah lama dikagumi oleh penduduk Mekah karena akhlak dan kejujurannya. Karena itu, menurut Nafisah, semua orang tua tentu mengharapkan Muhammad datang meminang putri mereka.

Setelah Muhammad dapat diyakinkan tentang pentingnya menikah, barulah Nafisah menyatakan bahwa wanita yang paling patut menjadi istrinya adalah Khadijah. Alasannya sederhana. Khadijah adalah wanita yang cantik, kaya, bagus nasabnya, pandai menjaga kehormatannya, dan luhur akhlaknya. Masyarakat pun menjulukinya "wanita yang suci".

Mengetahui pilihan Nafisah, Muhammad pun terkejut. Menurutnya, Nafisah berlebihan. Dari mana ia akan memperoleh harta untuk membayar mahar Khadijah? Nafisah menjawab bahwa kalau Muhammad setuju untuk menikah dengan Khadijah, urusan mahar tidak perlu ia pikirkan.

Nafisah menceritakan proses "diplomasi" awal yang dilakukannya itu dalam sebuah riwayat. Ia berkata, "Khadijah pernah mengutusku sebagai perantara kepada Muhammad setelah ia pulang dari Syam. Kukatakan kepadanya, 'Apa yang menghalangimu untuk menikah? Muhammad menjawab, 'Aku orang miskin yang tidak punya harta.' Kukatakan, 'Jika aku tanggung semua keperluanmu untuk menikah dan kupilihkan seorang wanita yang cantik, kaya, mulia, dan cocok untukmu, maukah engkau menikah?' Muhammad menjawab, 'Siapa wanita itu?' Aku menjawab, 'Khadijah.' Muhammad kembali bertanya, 'Bagaimana mungkin?' Kukatakan, 'Aku yang akan mengaturnya.'"

Upaya pendekatan yang dilakukan Nafisah ini sebenarnya bermakna penting. Tidak saja penting bagi Khadijah, tetapi juga bagi sejarah manusia secara umum. Jika Khadijah terbukti berperan penting bagi kesuksesan Rasulullah menunaikan misi risalahnya, maka siapa pun yang membantu pernikahan mereka harus dipandang sebagai bagian penting dari proses penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Comments

Popular posts from this blog

Khadijah - Page 3

1 2 3 4 5 Muhammad memiliki kening yang lebar, dagu yang lepas dan leher yang jenjang. Dadanya bidang. Matanya indah dan lebar dengan bola mata yang hitam pekat. Giginya putih cemerlang. Agak mengherankan bahwa Khadijah memperhatikan semua itu. Ketampanan dan kegagahan Muhammad memang mampu memikat banyak orang. Tetapi, bukankah Khadijah memanggilnya untuk urusan bisnis? Tampaknya, Khadijah tertarik kepada pribadi pemudia ini. Alangkah lembutnya keindahan yang terpancar dari wajah Muhammad. Alangkah indahnya senyum tipis yang menghias wajahnya. Khadijah merasa bahwa apa yang ramai dibicarakan penduduk Mekkah tentang Muhammad bukan merupakan isapan jempol belaka. Setelah menerima tugas dari Khadijah, Muhammad bergegas menuju pamannya, Abu Thalib, untuk menceritakan tawaran kerja yang baru saja diterimanya. Abu Thalib pun turut bergembira. Ia berkata, "Ini adalah rezeki yang Allah berikan kepadamu." Hari keberangkatan pun tiba. Penduduk Mek...