Beberapa bulan dari tahun ketiga terlampaui sudah. Kesabaran Khadijah hampir habis. Di saat kritis itulah rahmat dari Tuhan turun. Khadijah merasakan apa yang biasa dirasakan para wanita di tahap-tahap awal kehamilan. Khadijah ragu.
Tidakkah itu sekedar ilusi? Tampaknya tidak. Tanda-tanda kehamilan semakin terlihat jelas. Janin yang dikandungnya mulai bergerak-gerak. Betapa lega Khadijah. Ia segera mengabarkan berita itu kepada suaminya tercinta. Muhammad pun menerima kabar tersebut dengan rasa gembira yang tak terucapkan. Mereka berdua menghaturkan syukur ke hadirat Allah swt.
Satu persoalan selesai. Persoalan lain datang. Khadijah, seperti halnya wanita-wanita Quraisy di masa itu, mengharapkan anak yang dikandungnya laki-laki. Kaum Quraisy tidak pernah bangga memiliki anak perempuan seperti halnya kebanggaan mereka memperoleh anak laki-laki. Khadijah bertanya-tanya akankah ia melahirkan anak laki-laki?
Persiapan-persiapan menjelang proses persalinan mulai dilakukan. Orang yang akan menangani proses persalinan itu adalah Salma, pelayan wanita milik bibi Muhammad, Shafiyyah binti Abdl Muththalib. Persalinan berlangsung lancar. Bayi lahir dengan selamat. Laki-laki. Semua orang gembira. Muhammad memberi nama anaknya "Qasim". Dan sejak saat itu, ia terkenal dengan nama Abul-Qasim yang berarti ayah si Qasim.
Qasim lahir ketika Muhammad berusia 29 tahun. Di hari ketujuh setelah kelahirannya, rambut sang bayi dicukur habis. Muhammad lalu bersedekah dengan perak seberat rambut yang telah dicukur itu. Dia ekor kambing disembelih untuk dimasak dan dibagi-bagikan. Hari yang sangat membahagiakan bagi Muhammad dan Khadijah.
Para wanita Quraisy menganggap bahwa semakin banyak anak yang mereka miliki, semakin besar pula kebahagiaan dan kemuliaan yang mereka terima. Karena itu, mereka lebih suka membiarkan anak-anak mereka disusui dan diasuh oleh wanita-wanita lain agar mereka bisa lebih cepat mengandung lagi. Hal yang sama juga dilakukan oleh Khadijah. Ia membiarkan Qasim diasuh oleh seorang wanita yang menyusuinya.
Hanya beberapa bulan setelah kelahiran anak pertamanya, Khadijah merasakan tanda kehamilan lagi pada dirinya. Hal itu menjadikanya semakin tenang. Segenap penderitaan akibat kehamilan dijalaninya dengan rasa bahagia dan rela. Ia bahkan mulai berpikir, laki-laki atau perempuankan anaknya yang kedua nanti? Ia berharap Tuhan menganugerahkan kepadanya lebih banyak anak laki-laki.
Hari berganti hari. Qasim menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Khadijah gembira melihat anaknya itu mulai belajar merangkak. Seisi rumah dipenuhi oleh suasana bahagia.
Sementara itu, perkembangan kandungan anak kedua Khadijah juga berlangsung normal. Khadijah mulai bersiap-siap menghadapi kelahiran. Lagi-lagi Salma yang dipilihnya untuk membantu proses persalinan. Anak kedua pasangan Muhammad dan Khadijah pun lahir setahun dan beberapa bulan setelah kelahiran anak pertama. Seoran bayi perempuan yang molek.
Muhammad menyambut kelahiran anak keduanya dengan gembira. Sama sekali tidak tampak kesan bahwa ia kurang bahagia memperoleh anak perempuan. Nama "Zainab" dipilihnya bagi anak ang lahir pada saat usianya 30 tahun itu. Khadijah sendiri berusia 45 tahun. Untuk menunjukkan rasa syukur, seekor kambing disembelih dan dagingnya disedekahkan kepada keluarga, handai taulan, serta orang-orang fakir dan miskin.
Comments
Post a Comment