"Ya," jawab Maysarah.
Rahib itu kemudian berkata, "Pemuda yang duduk di bawah pohon itu adalah seorang nabi."
Pernah pula ada seorang lelaki berselisih dengan Muhammad. Maysarah menduga lelaki itu memang sengaja mencari-cari persoalan. Lelaki itu berkata kepada Muhammad, "Bersumpahlah dengan nama Lata dan Uzza!"
Muhammad menolak dan berkata, "Aku tidak pernah bersumpah dengan nama keduanya."
"Engkau benar."
Lelaki itu pergi begitu saja. Tetapi, di luar pengetahuan Muhammad lelaki tadi berkata kepada Maysarah, "Orang ini, demi Tuhan, adalah seorang nabi. Para pendeta kami telah menerangkan ciri-cirinya berdasarkan apa yang mereka baca dalam kitab suci."
Maysarah juga bercerita kepada Khadijah tentang tingkah laku Muhammad di sepanjang perjalanan. Semua itu menunjukkan kejujuran, keluhuran budi, dan kelembutan hatinya.
Khadijah mulai berpikir dan menimbang-nimbang semua cerita yang di dengarnya itu. Ia tahu bahwa semua penduduk Mekah merasa kagum kepada Muhammad. Mereka percaya dengan kejujuran, integritas, dan kebersihan moralnya. Julukan yang beredar untuknya adalah al-amin yang berarti 'orang yang dapat dipercaya'. Khadijah sendiri mengakui bahwa Muhammad adalah pemuda yang nyaris sempurna.
Khadijah mulai bertanya-tanya. Perasaan apa yang ada di dalam hatinya. Mengapa ia merasa kagum ketika melihat Muhammad memasuki kota Mekah dengan untanya? Tidak salahkah penglihatannya ketika ia menyaksikan sendiri dua malaikat menaungi Muhammad? Rasa gembira ketika mendengar Muhammad memperoleh keuntungan besar di Syam, benarkah rasa itu muncul hanya karena kabar keuntungan finansial yang di dapatnya? Bagaimana ia harus menyikapi cerita-cerita aneh yang dikabarkan Maysarah?
Semua orang pada masa itu, termasuk Khadijah, tentu pernah mendengar ramalan para rahib mengenai seorang nabi yang ditunggu-tunggu itu? Dalam perjalanan ke Syam, Muhammad memang berhasil memperoleh laba besar dengan jumlah yang tidak pernah diperoleh oleh siapa pun sebelumnya. Apakah hal ini berhubungan dengan statusnya sebagai calon nabi?
Sebenarnya, Khadijah telah mencoba untuk tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi, semakin keras ia berusaha untuk melupakannya, semakin sering pikiran-pikiran itu muncul di kepalanya. Dan, anehnya, Khadijah merasa bahagia dengan semua itu. Ia bertanya-tanya, apakah pikiran itu lahir dari rasa kagum yang sama seperti apa yang dirasakan oleh orang-orang Quraisy?
Khadijah tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Ia, seorang wanita yang dikenal dengan kecerdikan dan ketajaman pikiran, ternyata tidak dapat menangani persoalan yang terkesan sederhana ini. Di ujung rasa bimbangnya, Khadijah pergi menemui sepupunya, Waraqah ibnu Naufal.
Waraqah memeluk Nasrani sejak muda. Ia merupakan seorang yang tekun menyembah tuhan, menjauhi berhala, dan mempelajari kitab-kitab suci agama terdahulu. Mendengar cerita Khadijah, ada rasa bahagia yang aneh dirasakan oleh Waraqah. Ia bangkit lalu berkata bahwa berdasarkan kitab-kitab suci yang pernah dibacanya Allah akan mengutus seorang rasul terakhir dari anak keturunan Ismai'il yang lahir dekat Baitullah.
Comments
Post a Comment