Waraqah kemudian terdiam. Ia berpikir serius, lalu berkata, "Wahai Khadijah, jika apa yang kupikirkan ini benar, maka Muhamad pastilah seorang nabi. Yang kutahu dengan pasti, seorang nabi akan muncul dari bangsa ini. Dan sekaranglah saat kemunculannya."
Waraqah juga berharap dirinya dikaruniai umur panjang sehingga ia bisa beriman, mengikuti ajaran-ajaran nabi itu, dan membelanya menghadapi musuh-musuhnya.
Di akhir pembicaraan, Waraqah melantunkan syair,
Bertahan aku dengan ingatan
tentang sedih yang melahirkan jeritan
hingga engkau, Khadijah, datang kepadaku
Betapa lama, Khadijah, aku menunggu
Perbincangan dengan Waraqah menimbulkan kesan mendalam di hati Khadijah. Ia kembali memikirkan Muhammad, pemuda yang mengagumkan itu. Ia bertanya, apakah kekaguman masyarakat kepada Muhammad merupakan bagian dari skenario Tuhan untuk melapangkan jalan baginya menjadi nabi?
Secara pribadi, Khadijah juga berpikir tentang apa yang sebenarnya menghubungkan dirinya dengan Muhammad. Mengapa bayangan Muhammad selalu muncul siang-malam tanpa ia kehendaki?
Telah banyak pinangan lelaki yang ditolak oleh Khadijah karena ia berpikir bahwa mereka hanya ditolak oleh Khadijah karena ia berpikir bahwa mereka hanya menghendaki harta dan status sosialnya. Tetapi, Muhammad berbeda dengan mereka. Rasa hormat dan cinta kepadanya tumbuh perlahan-lahan hingga akhirnya mencengkeram hati dan perasaan. Apakah ini juga bagian dari takdir Tuhan? Khadijah bertanya, inikah balasan untuk dirinya dari Tuhan atas perbuatan baik, sifat kedermawanan, serta keteguhannya menjaga diri dan kehormatan?
Khadijah percaya sepenuhnya akan kebenaran pernyataan Waraqah. Ia tahu bahwa cinta yang tumbuh di hatinya adalah perasaan yang wajar bagi wanita mulia yang mendambakan seorang pendamping hidup yang dapat dipercaya. Bahkan ia juga meyakini bahwa rasa cinta itu merupakan anugrah Tuhan kepada dirinya, bahwa Tuhan menghendakinya untuk terlibat dalam rencana besar-Nya bagi manusia.
Akan tetapi, Khadijah juga sempat ragu. Pantaskah ia menikah dengan Muhammad? Selama ini, ia yakin bahwa ia harus menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Karena hal itulah ia menolak semua pinangan yang datang. Ia lebih memilih untuk hidup bersama anak-anaknya dan memusatkan perhatian dalam bidang perdagangan. Apa kata para pemuka Quraisy jika mereka mendengar Khadijah meminang seorang pemuda untuk dirinya sendiri?
Dalam tradisi Arab, seorang wanita hanya boleh menunggu lamaran dari laki-laki. Tetapi Khadijah bukan lagi seorang perawan muda yang tidak berpengalaman. Sebaliknya, Khadijah justru telah mempekerjakan banyak laki-laki untuk menangani urusan-urusan bisnisnya. Apa salahnya ia memilih sendiri laki-laki yang dapat mendampingi dan membahagiakannya?
Berbekal pengalamannya dalam dunia perdagangan, Khadijah juga memahami bahwa keteguhan dan inisiatif merupakan dua hal yang sangat menentukan kesuksesan. Khadijah sendiri adalah wanita yang sangat teguh memegang pendiriannya apabila ia yakin bahwa pendiriannya itu baik dan benar. Keteguhan dan inisiatif itu yang menjadikannya memilih dan mengutus Muhammad ke Syam. Apa salahnya jika ia memilih Muhammad sekali lagi untuk menjadi pendamping hidupnya?
Comments
Post a Comment